Info Sekolah
Rabu, 20 Mei 2026
  • SMA KP BALEENDAH: Mencetak Generasi Unggul dan Berkarakter. Bangga Jadi Bagian Kami!
  • SMA KP BALEENDAH: Mencetak Generasi Unggul dan Berkarakter. Bangga Jadi Bagian Kami!
13 Mei 2026

Melawan Stigma, Menemukan Makna Menjadi Guru

Rab, 13 Mei 2026 Dibaca 2x

“Kalau semua lulusan bisa jadi guru, lalu untuk apa ada Fakultas Keguruan?”

Kalimat itu berkali-kali saya temukan di media sosial. Kadang ditulis sebagai kritik, kadang sebagai sindiran. Tidak jarang pula disampaikan dengan nada merendahkan kepada guru-guru yang berasal dari luar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), termasuk saya.
Saya adalah seorang guru Pendidikan Pancasila di salah satu SMA swasta di Kabupaten Bandung. Namun, latar belakang pendidikan saya bukanlah keguruan. Saya merupakan lulusan Fakultas Hukum, tepatnya Ilmu Hukum. Enam tahun lalu, ketika pertama kali berdiri di depan kelas, saya tidak pernah membayangkan bahwa profesi guru akan menjadi bagian penting dalam hidup saya.
Awalnya, saya juga merasa ragu. Saya sadar bahwa saya tidak pernah mempelajari teori pedagogik secara mendalam saat kuliah. Saya tidak pernah menjalani program praktik mengajar seperti mahasiswa FKIP. Bahkan, saya sering merasa “kurang pantas” menyandang predikat guru ketika melihat rekan-rekan lain yang memang sejak awal dipersiapkan untuk dunia pendidikan.
Namun, sekolah memberi saya kesempatan. Kesempatan itulah yang perlahan mengubah cara pandang saya tentang arti seorang pendidik.
Menjadi guru ternyata tidak hanya tentang apa jurusan kuliah kita dahulu, tetapi tentang bagaimana kita terus belajar untuk mendidik manusia.
Di tahun-tahun pertama mengajar, saya banyak melakukan kesalahan. Saya terlalu fokus pada penyampaian materi, tetapi kurang memahami karakter peserta didik. Saya pernah merasa kecewa ketika siswa tidak memperhatikan penjelasan saya di kelas. Saya juga pernah berpikir bahwa menjadi guru cukup dengan menguasai isi pelajaran.
Ternyata saya salah.
Saya mulai memahami bahwa tugas guru jauh lebih kompleks daripada sekadar menyampaikan materi. Guru harus mampu memahami kondisi emosional siswa, menciptakan suasana belajar yang aman, hingga menjadi pendengar bagi keresahan mereka. Hal-hal seperti itu tidak otomatis saya miliki hanya karena saya sarjana hukum.
Karena itulah, saya memilih untuk belajar kembali.
Saya mulai membaca buku-buku tentang pendidikan, mempelajari strategi pembelajaran, memahami pendekatan pedagogik, hingga mengikuti berbagai pelatihan dan seminar pendidikan. Saya mencoba memahami bagaimana cara siswa belajar, bagaimana menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, dan bagaimana membangun kedekatan dengan peserta didik.
Perjalanan itu tidak mudah. Ada rasa lelah ketika harus belajar dari awal di tengah kesibukan mengajar. Ada rasa minder ketika membaca komentar-komentar yang menyebut guru non-FKIP tidak layak berada di sekolah. Bahkan, saya pernah mempertanyakan diri sendiri: apakah saya benar-benar pantas menjadi guru?
Namun, keraguan itu perlahan terjawab melalui pengalaman-pengalaman kecil di sekolah.
Saya pernah didatangi siswa yang berkata bahwa pelajaran Pendidikan Pancasila kini terasa lebih dekat dengan kehidupan mereka. Saya pernah menerima pesan dari siswa yang berterima kasih karena sudah mau mendengarkan cerita mereka ketika sedang mengalami masalah. Saya juga pernah melihat siswa yang awalnya pasif menjadi lebih percaya diri setelah diberikan ruang untuk berbicara dan berpendapat di kelas.
Dari sana saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya tentang asal jurusan, tetapi tentang kemauan untuk terus bertumbuh.
Hari ini, setelah enam tahun mengajar, saya telah mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan menyandang gelar guru profesional. Program itu menjadi ruang refleksi besar bagi saya. Saya mempelajari banyak hal yang sebelumnya tidak saya dapatkan di bangku kuliah, mulai dari perencanaan pembelajaran, asesmen, hingga pentingnya pembelajaran sosial emosional.
PPG juga membuat saya memahami bahwa profesionalisme guru tidak berhenti setelah lulus kuliah. Guru, siapa pun latar belakangnya, harus terus belajar sepanjang hayat.
Karena pada kenyataannya, tidak semua lulusan FKIP otomatis menjadi guru yang baik, sebagaimana tidak semua guru non-FKIP pasti tidak kompeten. Kompetensi guru dibangun melalui proses panjang: kemauan belajar, pengalaman, refleksi diri, dan kepedulian terhadap peserta didik.
Saya memahami mengapa polemik ini muncul. Banyak lulusan FKIP merasa perjuangan akademik mereka dipertanyakan ketika profesi guru juga dapat diisi oleh lulusan dari bidang lain. Perasaan itu wajar. Namun, menurut saya, persoalan pendidikan tidak seharusnya berhenti pada perdebatan tentang siapa yang paling berhak menjadi guru.
Yang lebih penting adalah memastikan bahwa siapa pun yang berada di ruang kelas benar-benar memiliki komitmen untuk mendidik dengan hati dan terus meningkatkan kompetensinya.
Pendidikan Indonesia membutuhkan partisipasi semesta. Dunia pendidikan tidak dapat dibangun hanya oleh satu kelompok saja. Semua pihak yang memiliki niat baik dan kesungguhan untuk belajar seharusnya diberi ruang untuk berkontribusi, termasuk mereka yang datang dari latar belakang non-keguruan.
Tentu, prosesnya harus tetap disertai standar yang jelas, pembinaan yang berkelanjutan, dan peningkatan kualitas guru secara menyeluruh. Program seperti PPG menjadi salah satu langkah penting agar guru memiliki bekal profesional yang memadai.
Di sisi lain, kesejahteraan guru juga perlu mendapat perhatian serius. Guru yang terus dituntut berkembang harus diberikan dukungan yang layak, baik secara moral maupun material. Sebab, sulit meminta guru menjadi pembelajar sepanjang hayat jika mereka masih harus terus memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sebagai guru non-FKIP, saya tidak ingin dipandang lebih baik ataupun lebih buruk dibanding guru lulusan keguruan. Saya hanya ingin dihargai sebagai seseorang yang terus belajar untuk menjadi pendidik yang lebih baik setiap harinya.
Saya percaya, pendidikan yang bermutu lahir dari guru-guru yang tidak berhenti bertumbuh. Dan terkadang, perjalanan menjadi guru justru dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa kita belum sempurna, lalu memilih untuk terus belajar memperbaiki diri.
Sebab pada akhirnya, guru bukan hanya tentang siapa kita di masa lalu, tetapi tentang seberapa besar kesungguhan kita dalam mendampingi masa depan anak-anak Indonesia.

Penulis: Yayang Haelisman, S.H., Gr.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Pengumuman

Terbit : Maret 19, 2026
SPMB Gelombang 2 di SMA KP Baleendah Telah di Buka, Sisa 2 Minggu lagi lohhh (Untuk Dapat Diskon 20%)!
SMA KP Baleendah secara resmi membuka pendaftaran melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk Tahun..
Terbit : Juli 4, 2025
SPMB GELOMBANG 3 Telah dibuka loh !😍
Kesempatan emas untuk bergabung dengan keluarga besar SMA KP Baleendah kembali hadir! Bagi adik-adik calon..

Info Sekolah

SMA KP Baleendah

NPSN 20404xxx
Jl. Adipati Agung, Baleendah, Kec. Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat 40375
TELEPON +62 823-1895-5106
WHATSAPP https://wa.link/zqwtam